7 Hal yang harus digali mendalam untuk meningkatkan penjualan secara signifikan

7 hal meningkatkan penjualan

Sebagai pengusaha atau orang sales kamu pasti ingin penjualan meningkat secara signifikan, betul ya?

Permasalahanya banyak orang yang merasa buntu dan omset penjualan stagnan di angka tertentu. Seperti kehabisan cara untuk naik ke level berikutnya. Padahal semua sumber daya yang dibutuhkan sudah tersedia.

Nah saya akan membahas hal-hal mendasar yang membuat omset penjualan berhenti di angka tertentu. Bisa jadi karena ada hal mendasar yang lupa tidak digali secara tuntas, sehingga kebingungan mau melangkah seperti apa.

Kadang kala kita lupa meng-kalibrasi (yang bener mengalibrasi) bisnis kita. Padahal medan perangnya terus berubah.

Oke langsung saja, kita membahas hal-hal mendasar itu secara santai saja ya, nggak perlu tegang-tegang. Anggap aja ini hiburan. Saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungi lebih mendalam.

1. Apa yang kamu jual?

Pertanyaan ini bukan sedang menanyakan produk apa yang kamu jual. Karena pada prinsipnya konsumen tidak membeli produk, mereka membeli solusi. Nah kadang karena kita sibuk secara operasional, sampai lupa menanyakan ini pada diri kita sendiri.

Dengan kata lain, solusi apa yang sedang kamu tawarkan untuk konsumen. Jika fokus kita pada produk, bukan pada solusi, yang terjadi adalah konsumen merasa tidak membutuhkan produkmu dan akhirnya tidak membelinya.

Apa dampaknya ketika kamu memahami solusi yang akan ditawarkan kepada konsumen? Banyak, Kamu bisa fokus meningkatkan value produk yang sesuai dengan solusi itu, kamu juga bisa mengubah bahasa marketingmu sehingga lebih mendekati dengan apa yang dicari oleh konsumen.

Ini bakalan panjang banget kalau mau bahas tentang bagaimana menaikkan value produk, apalagi bahas bahasa marketing, seperti lautan yang tak ada tepi nya.

Tapi setidaknya saya cicil dulu sedikit di tulisan ini, mengapa value produk kita harus ditingkatkan.

Rumus supaya penjualan kita meningkat signifikan adalah konsumen mendapatkan solusi dengan harga yang lebih ‘murah’ dari yang dibayangkan.

Kata ‘murah’ itu adalah hal yang sangat subjektif dan sangat tidak terukur nilainya. Meski demikian ada rumusnya supaya konsumen menganggap solusi kita lebih murah dari yang dibayangkan.

Jika hasilnya 1 berarti konsumen menganggap harga jualnya wajar dan biasa-biasa saja. Jika hasilnya dibawah 1 berarti konsumen menganggap terlalu mahal dan jika hasilnya di atas 1 berarti konsumen menganggap harga produk tersebut murah.

Bagaimana agar konsumen menganggap murah?  Ada 2 cara, turunkan harga atau naikkan value. Jika menurunkan harga, maka kamu akan terjebak pada perang harga dan akan berdarah-darah. Cara yang paling baik adalah meningkatkan value produk, sehingga profit yang didapatka tetap tinggi, namun konsumen merasa dapat produk murah.

Sampai di sini paham ya.. kalau belum paham, coba dibaca ulang pelan-pelan sambil seruput kopi dan makan cemilan.

ooh iya.. anak saya sedang belajar berbisnis dengan membuka reseller cemilan keripik pisan renyah dibalut coklat meleleh. Kepoin aja IG nya @meltechips (awas bagian ini mengandung iklan)

Coba pikirkan pelan-pelan untuk implementasi di usahamu seperti apa. Ambil pena dan selembar kertas, mulai corat-coret bikin list value apa saja yang dimiliki produkmu yang menjadi solusi atas permasalahan yang dialami konsumen.

Kalau sudah ketemu, coba tuangkan dalam bahasa marketing supaya pesan tentang value itu sampai di benak konsumen.

2. Segmen market apa yang kamu sasar?

Segmen market ini penting sekali supaya kamu tahu akan bermain di level mana. Secara sederhana misalnya saja kita bagi market menjadi 3 segmen, Segmen A adalah untuk kalangan atas, segmen B adalah untuk kalangan menengah dan segmen C adalah untuk kalangan bawah.

Jika ini belum cukup, boleh juga dibuat lebih detail, misal membagi satu segmen menjadi beberapa segmen lagi, misal kita mau menyasar segmen menengah (B), tapi B ini ada yang mendekati A dan ada juga B yang mendekati C, juga ada B yang di pertengahan. Sebut saja B1, B2, B3. Nah kita ingin menyasar segmen B yang mendekati C karena jumlahnya lebih banyak, berarti kita ambil segmen B3.

3. Target Market mana yang kamu sasar?

Nah setelah segmen marketnya ketemu, zoom lagi supaya ketemu target marketnya. Segmen B3 tadi orangnya siapa saja?

Kamu tidak akan bisa melakukan penjualan yang efektif dan menghasilkan omset yang besar tanpa mengetahui secara persis siapa target marketnya. Ibarat berburu, tentukan dulu hewan apa yang akan diburu, lalu cari tahu tempat berkumpulnya hewan-hewan tersebut.

Coba bayangkan jika kamu berburu di tempat hewan-hewan buruan itu berkumpul, kemungkinan akan mendapatkan hasil yang lebih banyak bila dibandingkan dengan berburu di lokasi yang bukan tempat berkumpulnya hewan tersebut. Betul kan?

Caranya bagaimana?

Buat profil konsumen secara geografis, demografis dan psikografi. Sampai kamu benar-benar tahu siapa saja target marketmu dan dimana kamu harus menjual produkmu itu.

Saya sengaja tidak menjelaskan secara detail tentang ini, supaya kamu berusaha mencari tahu. Karena proses belajar melalui proses pencarian akan lebih berkesan dari pada belajar secara pasif.

4. Bagaimana cara menembus target market tersebut?

Ini merupakan tantangan tersendiri, coba cari cara bagaimana supaya target market yang sudah jelas, terang benderang tadi dapat dijangkau oleh tim pemasaran kita. Apakah harus menggunakan jalur offline atau bisa dijangkau secara online, atau bahkan harus kombinasi online dan offline.

Apakah kamu membutuhkan orang-orang yang bisa mengakses market tersebut dengan mudah atau punya pengaruh besar pada target market tersebut atau punya kemampuan menjangkau secara lebih baik?

Jika iya, cari orang itu dan temukan cara supaya sumber dayanya dapat dimanfaatkan untuk menjangkau target market tersebut. Apakah harus di hire sebagai karyawan atau melalui jalur kerja sama, atau cara lain yang penting halal dan tujuan tercapai.

Ini juga bisa disebut sebagai key person, kita akan bahas tentang key person di poin berikutnya.

5. Siapa key person nya?

Apa sih Key Person itu? Secara sederhana saya mendefinisikan orang yang punya peran besar dalam mewujudkan tujuan kita. Nah sekarang tujuan kita adalah meningkatkan omset secara signifikan.

Siapa key person yang kita butuhkan?

Ada dua pihak, yakni pihak konsumen yang menentukan seberapa besar pembelianya dan dari sisi kita, siapa yang bisa mewujudkan penjualan sebesar target yang sudah kita tetapkan.

Simpelnya coba list siapa saja konsumen yang pembelianya paling besar, setidaknya 80% omset kita dari orang-orang ini. Kemudian cari tahu siapa pengambil keputusan dari pihak mereka. Berarti orang itu adalah key person yang harus kita “taklukkan”.

Kemudian setelah kita pegang key person dari pihak konsumen, siapa orang dari pihak kita yang bisa “menaklukkan” orang-orang tersebut. Bisa jadi orang ini bukan dari perusahaan kita, tapi ada diluar perusahaan, berarti kita harus bisa mengakses orang-orang ini dan menggunakan sumber dayanya untuk mengakses key person dari pihak konsumen. Mereka-mereka ini lah key person dari pihak kita.

Wah…

kok jadi serius gini..

santai dulu ya..

sambil seruput kopi lagi…

6. Siapa kompetitor kita?

Guru saya mengajarkan, “Jika bisnismu tidak ada kompetitornya, siap-siap tidak ada pembelinya”.

Sebegitu pentingnya kompetitor bagi bisnis kita, keberadaan kompetitor ternyata sangat mempengaruhi keberlangsungan bisnis kita. Karena kompetitor itu penting maka kita harus memahami secara mendalam. Kita harus tahu ‘cara bermain’ kompetitor, kemudian kita bisa merancang cara bermain kita.

Ah.. itu kan cara kuno, sekarang tidak ada lagi kompetitor yang ada semua adalah teman kolaboraksi.

Iya betul, saya belum selesai menjelasakan…

Sabar ya..

Sikap kita terhadap kompetitor ada 2: melawan atau merangkul. Ada pepatah mengatakan dalam bisnis tidak ada kompetisi, yang ada adalah dominasi. Jadi tidak penting lagi kita membahas mana yang lebih baik, melawan atau merangkul. Intinya bagaimana bisa mendominasi, caranya terserah mau pakai yang mana.

7. Siapa Role Modelnya?

Pilih Role Model dari bisnis yang mencapai sukses besar dengan cara yang inspiratif dan bisa dijadikan benchmark bagi bisnis kita.

Mereka melakukan pencapaian seperti itu pasti ditopang oleh penjualan yang bagus. Tidak ada perusahaan yang menjadi sangat besar dengan penjualan yang kecil. Itu mustahil.

Apakah role model harus bisnis yang sama dengan bisnis kita? Belum tentu.

Tapi akan lebih baik menggunakan lini usaha yang sama tapi secara skala usaha jauh diatas bisnis kita.

Untuk apa?

Supaya kita memiliki big picture di bisnis kita. Bisnis kita yang sekarang masih kecil, nanti kalau besarnya akan jadi seperti itu. Kita bisa pelajari step by stepnya supaya bisa menjadi sebesar role model tersebut.

Meskipun tidak ada jaminan kalau kita mengikuti cara yang sama, hasilnya akan sama. Biasanya tetap akan berbeda, karena perbedaan momentum dan playing field pada setiap step pertumbuhanya.

Eric C. Sinoway, Howard’s Gift  mengatakan “You can’t step in the same river twice. In the same way, you can’t follow a role model’s exact steps, expecting the same outcome.”

Hasil google translate nya begini : “Kamu tidak bisa melangkah di sungai yang sama dua kali. Dengan cara yang sama, Anda tidak dapat mengikuti langkah-langkah teladan seorang panutan, mengharapkan hasil yang sama. “

Nah itu 7 hal mendasar yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan Omset Penjualan secara signifikan. Mungkin masih banyak lagi cara lain, tapi 7 ini saja sudah bikin pusing bukan?

Ya sudah 7 dulu saja, coba realisasikan dan langsung action. Sebab tidak akan ada gunanya segunung ilmu jika tidak dilakukan.

Semoga sukses meningkatkan omset berkali-kali lipat ya.. aamiin..

Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya…

Salam hangat

Iwan Setiawan

Posts created 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas